“Berbuat Baik Tanpa Berpikir Untung Rugi?”


Saya baru saja membaca sebuah tulisan dari Reza A.A Wattimena dalam blognya http://rumahfilsafat.com/2015/09/20/kejahatan-dari-kebaikan/

Dan saya mengutip beberapa bagian tulisan beliau yang menurut saya adalah kesimpulan dari tulisan ini. Namun, bagi pembaca dianjurkan untuk membaca keseluruhan tulisan agar tidak salah memahami maksud dari tulisan beliau. Begini katanya,

“Keempat bentuk kebaikan di atas harus dilakukan, jika kita sudah memperoleh kejernihan di dalam batin dan pikiran kita. Jika pikiran kita masih kacau oleh kepentingan diri dan nafsu kotor, maka jangan berbuat baik. Jika pikiran kita masih dilumuri oleh perhitungan untung rugi, maka jangan berbuat baik. Perbuatan baik yang didasari oleh pamrih dan kekacauan pikiran justru akan melahirkan kejahatan dan penderitaan yang lebih besar.

Dalam arti ini, kita perlu menolong diri kita sendiri terlebih dahulu, sebelum menolong orang lain. Kita perlu berbuat baik pada diri kita sendiri dulu, sebelum kita berbuat baik pada orang lain. Artinya, kita perlu untuk “selesai” dengan segala pamrih dan perhitungan di dalam diri kita sendiri terlebih dahulu, sebelum membantu orang lain. Jika kita belum “selesai” dengan diri kita sendiri, maka jangan membantu orang lain.

Bukankah orang buta menuntun orang buta akan membuat keduanya masuk ke dalam jurang?”

****

Menurut saya tulisan ini menarik dan dapat kita jadikan bahan perenungan yang luar biasa untuk autokritik bagi kita yang masih kerap pamrih dalam berbuat baik. Kita yang sombong dengan kebaikan yang kita lakukan. Kita yang merasa bahwa kebaikan kita itu akan memberikan kebaikan kepada orang lain tanpa berpikir tentang ketergantungan yang bisa saja terjadi.

Namun saya mencoba mendiskusikan tulisan ini lewat blog ini.

Yang pertama, pernyataan beliau begini, “jika kita sudah memperoleh kejernihan di dalam batin dan pikiran kita barulah melakukan kebaikan. Jika pikiran kita masih kacau oleh kepentingan diri dan nafsu kotor, maka jangan berbuat baik.”

Pertanyaan yang bisa saja muncul adalah apakah yang lebih dulu antara “kejernihan batin, pikiran” dengan “kebaikan” itu sendiri?

Bila “kejernihan batin, pikiran” harus lebih dulu kita capai apakah hal ini adalah hal yang mudah atau cepat tercapai? Dan bagaimana cara mencapainya?

Saya pernah mendengar–entah dari siapa, saya lupa–bahwa berbuat baik juga harus dilatih sekalipun kita tidak sepenuhnya ikhlas melakukannya. Intinya kita dianjurkan untuk memaksa diri kita untuk berbuat baik. Melalui proses berbuat baik yang dilakukan berulang-ulang inilah kita akan menemukan pelajaran berharga dan sebuah kebiasaan yang membawa kita pada kesadaran akan pentingnya berbuat baik. Tanpa sadar kita akan melakukan kebaikan tanpa pamrih setelah melalui proses yang panjang.

Bila memperhatikan pandangan ini maka dapat disimpulkan bahwa kebaikan yang dipaksakanpun bisa saja menghasilkan “kejernihan batin, pikiran”. Maka, “kebaikan” dilakukan lebih dulu dari pada “kejernihan batin, pikiran”.

Sementara bila kita menginginkan “kejernihan batin, pikiran” lebih dulu dicapai sebelum “berbuat baik” lantas pertanyaan yang muncul bagaimana cara mencapai “kejernihan batin, pikiran” tersebut? Hal ini harus dijelaskan agar melengkapi tulisan beliau.

Dan bila manusia tertentu tidak mencapai “kejernihan batin, pikiran” yang bisa dimaknai ia melakukan kebaikan secara sadar dan muncul sendiri dari batin dan pikirannya tanpa pengaruh konsep moral yang sudah ada lebih dulu, maka ia akan melakukan banyak hal sesuka hatinya dengan tanpa batasan-batasan moral. Dan hanya akan berubah setelah ia menemukan “kejernihan batin, pikiran”-nya sendiri. Tapi, sampai kapan?

Menurut saya soal “kebaikan” dan “kejernihan batin, pikiran” bukanlah soal tahapan?

Tidak ada yang bisa memastikan seseorang akan mendapatkan “kejernihan batin, pikiran”, sehingga jangan menunggu itu terjadi baru melakukan kebaikan.

Namun benar bahwa kebaikan juga harus didasarkan pada keikhlasan dan tanpa hitung-hitungan. Lagi-lagi ini soal moral. Kebaikan yang benar-benar tanpa hitung-hitungan akan sulit ditemukan dalam dunia ini. Kendati itu semua bisa saja ada. Yang tahu hanya masing-masing orang yang melakukan kebaikan itu sendiri.

Dan dari kebaikan yang dilakukan–baik yang ikhlas maupun tidak–saya pikir akan memunculkan kesadaran yang akan mengarahkan pada kejernihan batin dan pikiran tersebut. Di sanalah proses panjang tersebut.

****

Kita lanjutkan dengan pernyataan berikut ini,

“Kita perlu menolong diri kita sendiri terlebih dahulu, sebelum menolong orang lain. Kita perlu berbuat baik pada diri kita sendiri dulu, sebelum kita berbuat baik pada orang lain. Artinya, kita perlu untuk “selesai” dengan segala pamrih dan perhitungan di dalam diri kita sendiri terlebih dahulu, sebelum membantu orang lain. Jika kita belum “selesai” dengan diri kita sendiri, maka jangan membantu orang lain. Bukankah orang buta menuntun orang buta akan membuat keduanya masuk ke dalam jurang?”

Untuk pernyataan ini, saya setuju bahwa menolong orang lain harus didasarkan pada kesiapan dan kesadaran bahwa diri kita sudah layak untuk menolong orang lain. Konsep menolong mengisyaratkan bahwa penolong lebih tinggi dari yang ditolong.

Namun sulit untuk membuat kategori layak atau tidaknya kita untuk menolong orang lain. Barangkali analogi “orang buta menuntun orang buta akan membuat keduanya masuk ke dalam jurang” juga tidak sepenuhnya bisa kita jadikan acuan untuk membenarkan bahwa kita harus bisa menolong diri kita sendiri dulu lalu menolong orang lain.

Sebuah contoh, seorang miskin memiliki satu piring nasi dan melihat seorang yang lebih miskin dari dirinya tidak punya sedikitpun nasi. Bila ia memilih menolong orang tersebut dengan membagi nasinya apakah dapat dikatakan seorang miskin ini membawa keduanya ke dalam jurang?

Seorang butapun bisa menuntun seorang buta lainnya tanpa harus jatuh ke jurang. Dengan latihan yang sudah sering dilakukan seorang buta bisa saja ia lebih baik dari orang buta lainnya dan tentu bisa menuntunnya tanpa jatuh ke jurang, bukan?

Saya tidak membenarkan dan tidak menyalahkan sepenuhnya pernyataan di atas. Saya hanya ingin mendiskusikan dan menyatakan pendapat saya untuk merespon pernyataan tersebut.

Kesimpulan saya, ada kesan egois yang muncul tatkala kita menyebut menolong diri sendiri lebih dahulu lalu menolong orang lain.

Karena manusia sendiri tak ada puasnya. Kapankah seseorang merasa bahwa dirinya sudah cukup menolong dirinya sendiri? Bila ternyata dirinya selalu merasa belum cukup menolong dirinya sendiri maka ia tidak akan berpikir untuk menolong orang lain. Di sini “ego” manusia akan semakin kentara.

Kemudian, saya berpikir bahwa menunggu diri kita berhasil menolong diri kita sendiri–yang bisa saja tak ada habis-habisnya–hanya akan membuat kita tidak akan pernah beniat menolong orang lain.

Saya ingin memberikan contoh, seorang pemuda yang bermimpi aktif dalam kegiatan sosial setelah ia bekerja. Ternyata setelah bekerja, ia semakin sibuk dengan pekerjaannya. Lalu, ia menikah dan memiliki anak. Setelah memiliki istri dan anak, ia semakin sibuk mengurusi keluarganya. Setelah itu, ia mempunyai cucu dan bertambah pula kesibukannya. Dan sampai ia harus meninggalkan dunia ia lupa dengan mimpinya.

Pertanyaannya, sampai kapan kita menunggu untuk menolong orang lain?

Sekian, semoga saja tulisan ini dapat memberikan sesuatu yang berharga bagi pembaca. Salam!!!

Diterbitkan oleh Junius Fernando Saragih

Junius Fernando Saragih lahir di Polling, 01 Maret 1991. Pria yang akrab disapa Nando ini menamatkan sekolah menengah atas dari SMA Negeri 1 Sidikalang pada tahun 2009. Ia juga berhasil menyelesaikan gelar sarjana Ilmu Pemerintahan di Universitas Padjadjaran (UNPAD) pada tahun 2014. Saat ini sedang melanjutkan pendidikannya pada program Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia. Selama berkuliah, ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Ia tercatat sebagai Koordinator Divisi Kajian Sosial Politik (KSP) pada Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) Fisip Unpad. Selain itu, ia juga pernah bergabung menjadi anggota Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Universitas Padjadjaran serta menjadi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas membidangi Hubungan Luar Negeri. Pada wilayah ekstra kampus, Nando juga mengambil bagian dalam sebuah organisasi gerakan yang bernama Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Ia tercatat sebagai Wakil Ketua mengurusi bidang Kaderisasi pada DPC GMNI Kabupaten Sumedang periode 2012-2014.

2 tanggapan untuk ““Berbuat Baik Tanpa Berpikir Untung Rugi?”

    1. Terima kasih sudah mengunjungi blog saya Pak. Terima kasih juga buat tanggapannya. Saya setuju bahwa kita berkewajiban menolong diri kita namun menurut saya bukan sebagai tahapan untuk menolong orang lain. Karena bila pernyataan ini dipakai oleh orang yang salah maka kemungkinan besar ia akan selalu fokus dengan dirinya sendiri dan tak akan sampai pada tahapan menolong orang lain. Manusia tidak akan pernah cukup menolong dirinya sendiri, karena pada dasarnya ia selalu merasa kurang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: