Belajar Menulis di Suara Pembaca


Suara pembaca pada surat kabar merupakan salah satu alternatif ruang bagi para pemula untuk belajar menulis. Ketika tulisan kita yang singkat sudah diterima paling tidak akan memberikan semangat untuk menulis pada lingkup yang lebih besar. Berikut contohnya http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2011/09/pikiranrakyat-20110913-prioritaskankeamanantransportasiudara.pdf. Pada 2013, penulis iseng menulis untuk surat pembaca.

Download tulisannya di bawah ini :

pikiranrakyat-20110913-prioritaskankeamanantransportasiudara

Iklan

Liburan kok makannya di Wa***g


Suatu hari saya sedang berbicang-bincang dengan seorang pemilik warung makan di dekat tempat saya tinggal. Sebut saja pemilik warung ini Bapak Ace. Beliau senang sekali mengkritik karyawan zaman now yang tiap hari berpakaian rapi tapi yang bikin ngenes kok senangnya makan di war**p dan wa***g.

Menurutnya warung makannya lah yang lebih baik dari warung-warung itu. Karyawan yang makan di warung makan miliknya dianggapnya lebih cerdas, lebih kaya dan lebih berkelas. Semua orang bebas berpendapat, termasuk Bapak Ace yang gemar mengkritik gaya hidup karyawan zaman now yang ia perhatikan dan dinilai dengan kaca matanya.

Dalam perbincangan kami, lagi-lagi Bapak Ace masih saja mengkritik gaya hidup anak zaman now yang gemar jalan-jalan—berpetualang menyusuri tempat-tempat pariwisata baru.

“Tapi kok sayang ya, setiap kali saya dengar mereka ngobrol di sini, mereka makannya tetap saja di wa***g lagi di wa***g lagi. Gimana sih jalan-jalan tapi ga bisa makan yang sedikit lebih mewah gitu?” celetuknya.

“Ya gitulah Pak, era sekarang ini sudah berbeda. Anak zaman now itu ngga terlalu mikirin soal makan di mana, makannya apa, yang penting liburan itu jadi gaya hidup dan kewajiban. Lebih baik spend money untuk menjelajah tempat-tempat wisata baru selagi masih muda, dengan dalih menikmati hidup, toh muda hanya sekali, kalau nanti sudah tua ya belum tentu sempat menikmati itu semua toh.” balasku.

Lalu Bapak Ace menanggapi.

“Ahh, bukan, ini bukan soal gaya hidup, tapi bodoh saja menurutku, ngapain heboh pengen pergi ke sana, pergi ke sini, emang kita kenyang dengan berwisata?” terang Bapak Ace.

“Oh ya gapapa sih Bapak berpendapat kayak gitu, tapi paling ngga orang kan punya keinginan yang berbeda-beda. Yang dia anggap sebagai sebuah kenikmatan jelas berbeda dengan yang Bapak anggap kenikmatan. Intinya beda kepala pasti beda pikiran dan kemauan gitu Pak,” jawabku lagi.

Lalu perbincangan ini masih saja berlanjut dan intinya kita punya pandangan yang berbeda. Meskipun berbeda ya gak ada salahnya dan nggak membuat satu sama lain saling menjauhi.

Demikianlah pesan dari cerita tersebut. Alahhhhh, kirain tentang apaan. Ha ha ha ha.

Iya juga ya. Tapi tunggu dulu.

Nah, paling ngga kita bisa tarik kesimpulan dari cerita ini, bukan soal makanan, tapi soal pergeseran konsumsi generasi millennial.

Sekarang itu, menurut Kepala BPS Suhariyanto (2017), ada pergeseran pola konsumsi dari non-leisure ke leisure. Masyarakat lebih memilih jalan-jalan dan belanja untuk hal-hal yang sifatnya hiburan. Bisa terlihat pertumbuhan konsumsi untuk hotel, kebudayaan, dan restoran dan lain sebagainya. Tingkat penghunian kamar hotel tumbuh 6,62 persen, menguat 0,01 persen dibanding kuartal yang sama di 2016.

Boleh dicatat nih bagi yang ingin berencana bisnis, biar tau generasi zaman now itu sukanya apaan sih. Ya, tidak? Ya, iya.

MEMBUNUH TIDAK HARUS DENGAN MENUSUKNYA MENGGUNAKAN PISAU TAPI SANGAT MUNGKIN DILAKUKAN DENGAN KATA-KATA


protest-155927_1280

Oleh : Junius Fernando Saragih

Baru-baru ini sebuah film karya Bradley Cooper yang dibintangi oleh Lady Gaga, seorang penyanyi kenamaan berdarah campuran Italia-Amerika sukses membuat para penontonnya bercucuran air mata. Dalam pembuatan film yang bertajuk ‘A Star Is Born’ ini, Bradley Cooper memainkan tiga peran sekaligus, sebagai penulis naskah, sutradara sekaligus menjadi aktor. Bradley berperan sebagai Jackson Maine, seorang penyanyi yang sudah lebih dulu tenar yang nantinya bertemu dengan Ally yang diperankan oleh Lady Gaga.

Pertemuan Maine dan Ally yang memiliki potensi besar dalam menyanyi dan menulis lagu seolah memberi ruh yang baru bagi Maine. Semangat dan gairah baru mencuat. Itulah yang membuat Maine memutuskan untuk hidup bersama dengan Ally. Maine pun berkontribusi besar dalam mempopulerkan sosok Ally yang selama ini hanya mengekspresikan hoby bermusiknya di cafe yang bahkan tidak banyak yang mengunjunginya.

Singkat cerita, Maine berhasil membuat Ally dikenal banyak orang. Keduanya manggung bersama sampai akhirnya seorang promotor ingin menaikkan nama Ally menjadi penyanyi yang lebih terkenal lagi. Siapa sangka hal ini justru menjauhkan Ally dari kekasihnya Maine. Masih banyak hal tentang Maine yang tak diketahui Ally, termasuk soal kejiwaan Maine yang kian lemah setelah redupnya karir bermusiknya.

Saya tidak ingin bercerita panjang lebar tentang perjalanan Ally dalam film ini. Barangkali sudah banyak di antara pembaca yang sudah menontonnya dan sukses dibuat menangis di akhir film tersebut. Ada satu scene menarik di akhir cerita film ‘A Star Is Born’ yang menurut saya menarik untuk kita bahas.

Scene tersebut adalah di akhir cerita Jackson Maine memutuskan untuk membunuh dirinya setelah permasalahan psikis nya hampir pulih. Maine justru bunuh diri ketika Ally sudah memutuskan untuk memilih hidup bersamanya dan meninggalkan ketenaran. Pertanyaan besar mengapa?
Dalam film tersebut dikisahkan promotor atau manajer Ally yang sukses membesarkan nama Ally hingga menjadi penyanyi terkenal dan mendapatkan penghargaan sebagai Aktris Terbaik Tahun Ini versi Academy Awards.

Setelah Ally memutuskan untuk kembali bersama Maine dan tinggal di sebuah rumah kecil yang jauh dari keramaian. Di masa-masa tersebut, manajer Ally mendatangi Maine. Saat itu, Ally sedang manggung dan menunggu Maine hadir manggung bersamanya. Dalam pertemuan tersebut, manajer Ally kembali mengganggu psikis Maine dengan mengatakan bahwa Maine adalah penghambat bagi kebahagiaan Ally. Maine membuat Ally sengsara dengan merusak masa depannya sebagai penyanyi terkenal.

Penghancuran mental yang dilakukan manajer Ally terhadap Maine sukses membuat Maine bunuh diri. Dan di akhir cerita, inilah kesedihan Ally yang paling menyiksanya seumur hidup. Kematian Maine adalah sengsara yang sangat melukai hati.
Singkat cerita saya ingin menyampaikan bahwa, ‘membunuh orang tidak harus menusuknya dengan pisau, melainkan sangat mungkin dilakukan dengan kata-kata’.

Seseorang bisa membunuh orang lain dengan menjatuhkan mental dan psikisnya. Oleh karenanya jangan biarkan itu terjadi pada orang yang paling anda kasihi. Mungkin keluarga anda—saudara anda, orang tua yang sudah tua dan tidak berdaya, maupun teman anda yang lemah mentalnya.
Itu mengapa kita membenci kasus seperti bullying di manapun itu, khususnya yang sering terjadi di sekolah.

Kita juga menentang ketika ada oknum guru yang suka menjatuhkan mental anak didiknya. Melukai perasaan anak didik dapat membunuhnya secara perlahan. Sementara masih banyak orang yang mencintai nya khususnya keluarganya.

Bagi keluarga yang menyadari hal tersebut, jangan membiarkan saudara, anak anda atau teman anda dirusak mental dan psikisnya. Karena hal ini sama saja dengan membunuhnya secara perlahan. Masihkah anda mencintai mereka? Bila iya, stop bullying, stop gunakan kata-kata yang melukai hati apalagi itu dilakukan berulang-ulang.

Belajarlah mengerti dan memahami. Belajarlah untuk
menghargai satu sama lain. Belajarlah untuk membesarkan hati bukan mengecilkan hati orang lain. Belajarlah untuk menjaga saudara kita dari perlakukan yang mengganggu mentalnya. Karena hal ini mengancam kita, dan bisa terjadi di mana saja.

BERBURU BATIK DI CIREBON


Bagi anda orang Jakarta yang senang jalan-jalan dan berburu batik, Kota Cirebon bisa jadi salah satu tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi. Selain aksesnya yang mudah dengan beberapa pilihan moda transportasi, waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya juga tidak memakan banyak waktu libur anda.

Namun kali ini penulis ingin sharing tentang pengalaman jalan-jalan sehari ke Cirebon menggunakan moda transportasi kereta api. Mengapa memilih kereta api? Tentu saja karena waktu tempuh yang jauh lebih mudah diprediksi dibanding bis. Kalau mau naik pesawat paling hanya bisa menuju majalengka saja, yakni Bandara Kertajati. Dari Bandara Kerjajati ke Cirebon makan waktu paling engga satu jam perjalanan. Lagian penulis bahkan ngga tau apakah rute pesawat Jakarta-kertajati majalengka udah ada atau belum. Hehe. Kalaupun ada sepertinya berat diongkos juga sih hehe.

Langsung aja ya, kalau naik kereta dari Jakarta ke Cirebon itu paling tidak menghabiskan waktu tiga jam perjalanan. Kita bisa milih keretanya, ekonomi, bisnis atau eksekutif. Buat nekan budget kita akan pilih naik kereta ekonomi. Nama keretanya Tegal Ekspres/210 dengan harga tiket Rp 45.000,-. Gile, murah banget kan. Coba kalau naik bis ngga mungkin dapat harga semurah itu. Padahal naik kereta ekonomi sekarang ini udah cukup nyaman, dingin ber-AC hanya saja harus berbagi tempat duduk dengan yang lain.

IMG_20181114_112612

Kereta Tegal Ekspres/210 yang penulis naiki berangkat pada pukul 07.40 (di tiket ditulisnya pukul 07.35) pagi dan sampai di Stasiun Cirebon Perujakan pada pukul 11.20. Perjalanannya lebih dari tiga jam karena berhenti di beberapa stasiunnya cukup lama. Penulis kurang paham apakah akan berbeda bila menggunakan kereta bisnis atau eksekutif.

Sesampainya di Stasiun Cirebon Perujakan, tentu saja jam 11.20 udah mulai kerasa lapar karena bangun pagi-pagi dan hanya sarapan roti O dua biji. Mungkin buat sebagian orang itu udah cukup mengenyangkan tapi bagi penulis itu jelas kurang haha.

Karena udah terasa lapar, penulis memutuskan untuk mencari tempat makan khas Cirebon, alhasil kepikiran untuk makan Empal Gentong. Tidak jauh dari Stasiun (bisa naik angkot D5 atau 05 lupa lagi, nanti bisa nanya lagi deh dekat stasiun), kita bisa memilih beberapa tempat makan yang menjual Empal Gentong mulai dari yang pinggir jalan atau yang berupa restoran (yang agak elit sedikit). Kalau ngga mau naik angkot tinggal naik ojol aja ya.

Penulis lagi ngga pengen promosi tempat makan nih, tapi pembaca bisa coba Empal Gentong Haji Apud, Haji Dian, atau Empal Gentong Amerta (eh, malah kesebut lagi). Yowis ndak papa. Hehe.

Setelah selesai makan siang, tepat pukul 12.08, penulis melanjutkan perjalan dengan ojol (ojek online) ke Plered yaitu Desa Trusmi. Desa ini terkenal dengan pengrajin batiknya. Desa trusmi merupakan kawasan industri Batik di Cirebon. Di sana terdapat beberapa toko Batik dan gudang pembuatan batik yang dilakukan oleh pengrajin.

Harga batik yang ditawarkan juga beragam. Ada yang murah meriah—biasanya dibeli grosiran untuk seragam atau dijual kembali. Namun jangan kaget ketika melihat harga batik yang tergolong mahal karena memang kualitas batik yang baik serta pengerjaan yang tidak sebentar. Menurut pengakuan warga Cirebon, batik yang mahal dikarenakan batik tulis yang tingkat kerumitan tinggi.

Setelah lelah berkeliling dari toko ke toko, penulis memutuskan untuk belanja di Batik Trusmi (BT) saja. Selain pilihannya banyak, harganya masih relatif terjangkau dengan kualitas batik yang baik.

Ngga cukup sampai di sana, penulis merasa penasaran apakah ada lokasi lain di Cirebon yang juga menjual batik, mungkin dengan harga yang lebih murah lagi. Sanking penasarannya, penulispun melakukan penelusuran di google. Nah, ada beberapa lokasi yang ditawarkan. Penulispun memilih untuk berkunjung ke Pasar Kanoman di Cirebon.

Sesampainya di lokasi Pasar Kanoman, terlihat suasana pasar pada umumnya. Tidak ada yang aneh di pasar ini. Setelah masuk ke gedung pasar, menyusuri lantai pertama lalu naik ke lantai dua, barulah penulis disuguhi pemandangan pedagang kain yang mayoritas menjajakan kain batik.

Ohhhhh…ternyata di Pasar Kanoman itu yang dijual bukan batik jadi melainkan kain batik yang nantinya bisa dijahit sesuai dengan keinginan konsumen. Penulis baru tahu.

Penulispun keluar dari pasar dan berkeliling di sekitaran pasar kanoman. Penulis juga menemukan beberapa toko yang menjual batik jadi, baik kemeja, gaun dan beragam jenis pakaian lainnya.

Saat menanyakan harga, menurut penulis harga batik di pasar Kanoman cukup terjangkau namun koleksinya tidak sebanyak di Desa atau Kampung Trusmi. Sampai di sini, penulis lebih menganjurkan pembaca untuk berkunjung ke Desa Trusmi saja dan hunting batik sebanyak-banyaknya. Tempat ini pantas untuk direkomendasikan. Yuhuuuuu.

Nah, setelah puas berburu batik, sambil menunggu kereta pulang, penulis masih sempat mengunjungi Keraton Kasepuhan Cirebon yang merupakan keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Keraton ini merupakan pusat kerajaan Cirebon, tempatnya para pendiri Cirebon bertahta.

Di dalam keraton ada sumur yang bisa dimanfaatkan untuk cuci muka, bahkan mandi dan meminum air sumur. Namun penulis tidak sempat mengunjunginya. Tiket masuk ke dalam keraton ini adalah Rp 15.000,- untuk umum dan pengecualian untuk pelajar dibebani tiket Rp 10.000,-. Apabila ingin masuk ke dalam Museum Pusaka Keraton Kasepuhan kita dibebani tiket masuk Rp 25.000,-. Dan untuk bisa masuk ke dalam sumur kita menambah biaya tiket masuk sebesar Rp 10.000,-.

Sebelum memutuskan untuk pergi ke stasiun, penulis menyempatkan makan Nasi Lengko di dekat lokasi Keraton Kasepuhan Cirebon. Sambil makan nasi lengko, penulis berbincang-bincang dengan Ibu penjualnya. Ibu tersebut bercerita bahwa Raja Cirebon sampai sekarang tinggal di Keraton, paling sesekali berkunjug ke luar untuk menghadiri acara-acara tertentu.

Di luar keraton, kebetulan sedang diadakan pasar dadakan yang biasa dilaksanakan sekali sebulan. Ada wahana permainan, pedagang yang berjualan beraneka ragam jenis pakaian, keperluan rumah tangga, dan kuliner. Warga sekitar menyebut acara itu dengan sebutan Muludan. Pokona rame deh. Andai saja jalan-jalan nya ngga sehari aja, mungkin penulis akan lebih lama lagi di sana.

Setelah puas berkeliling dan sepertinya akan ada hujan, penulispun memutuskan untuk berangkat ke stasiun menggunakan ojol. Jarak keraton kasepuhan ke stasiun Cirebon Prujakan tidaklah jauh, cukup bayar ojol tiga ribu rupiah, udah nyampe deh.

Nah, dari stasiun Cirebon Prujakan ke Jakarta (Pasar Senen) menghabiskan waktu sekitar 4 jam. Loh kok lama, iya brentinya lama euyy, ada gangguan.

Gimana? Jadi pengen segera jalan-jalan ke Cirebon ya. Yuk, dicoba.

Mengapresiasi Pencapaian Ekonomi Indonesia


Oleh : Junius Fernando S Saragih*

    Betapapun hebatnya suatu negara, kemiskinan akan selalu ada dan menghantui proses perjalanannya. Lantas untuk menilai apakah negara tersebut adalah negara kesejahteraan bukan dinilai dari ada tidaknya kemiskinan di negaranya, melainkan dinilai dari sejauh mana pengentasan kemiskinan yang sudah dilakukan dengan berbagai manifestasinya.  

    Suatu kabar gembira untuk pertama kalinya persentase penduduk miskin di Indonesia berada di angka satu digit. Menurut data yang dilansir BPS per maret 2018, angka kemiskinan Indonesia sebesar 9,82 persen yakni sebanyak 25,95 juta orang. Jumlah ini mengalami penurunan dari data sebelumnya per September 2017 sebesar 26,58 juta orang (10,12%).

    Di tengah hiruk pikuk penguatan nilai mata uang Dollar AS yang berdampak pada penurunan nilai mata uang rupiah, tingkat kemiskinan justru mampu diturunkan hingga tinggal satu digit. Membuncah harapan bahwa negara sekelas Indonesia bukan tidak mungkin menaikkan derajatnya menjadi raksasa ekonomi baru sebagaimana telah diprediksi dunia.

    Tidak hanya penurunan tingkat kemiskinan saja yang membuat kita terkejut melainkan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia untuk pertama kalinya dalam sejarah telah menembus US$ 1 triliun (13.588,8 triliun rupiah). Meningkatnya PDB Indonesia ini sekaligus menobatkannya sebagai salah satu dari 15 negara dengan ekonomi terbesar di dunia.

    Pertanyaannya apakah yang sudah dilakukan pemerintah selama ini hingga mampu mencapai prestasi sebaik hari ini? Dalam kurun waktu 4 tahun pemerintahan Jokowi-JK, kita ingat program pengetatan anggaran dan tax amnesty salah satu kebijakan yang menarik perhatian. Hingga ditutup pada 1 April 2017, total pelaporan harta melalui program tax amnesty tembus Rp 4.855 triliun dengan rincian deklarasi harta di dalam negeri Rp 3.676 triliun, di luar negeri Rp 1.031 triliun dan harta yang dibawa pulang ke Indonesia (repatriasi) Rp 147 triliun (Kompas.com, 1/4/2017).

    Tidak cukup sekedar memperhatikan nominal harta yang akhirnya dideklarasi bahkan dipulangkan ke Indonesia, program tax amnesty ini tentu saja akan berdampak besar secara jangka panjang. Betapa tidak, pasca program tax amnesty pendapatan negara berupa pajak akan terus meningkat. Tentu saja hal ini harus diiringi dengan perbaikan sistem perpajakan dan integritas pegawai pajak.

    Program tax amnesty merupakan salah satu kebijakan pro rakyat yang pertama kali dilakukan dalam sejarah Indonesia. Distribusi kekayaan negara agar dapat dirasakan secara merata sangat mungkin dilakukan melalui sistem perpajakan yang ketat dan berintegritas. Sekarang tinggal bagaimana pengawasan distribusinya agar tepat sasaran, salah satu contohnya memastikan pembangunan juga terasa sampai ke daerah-daerah yang selama ini kurang terjangkau oleh pemerintah.

    Lalu proses pengetatan anggaran yang selama ini diterapkan dengan yakin oleh pemerintah kendati banyak kalangan yang mengkritik dan meragukan keampuhannya nyatanya memegang pengaruh besar terhadap penguatan ekonomi. Menurut pemerintah, pengetatan anggaran adalah memangkas anggaran yang selama ini kurang tepat sasaran pengalokasiannya serta memboroskan anggaran yang tersedia.

    Bukan rahasia bahwa selama ini ada banyak proyek pemerintah yang mangkrak karena terkendala persoalan teknis. Hal semacam ini membuat anggaran tidak terserap penuh sementara anggaran telah dialokasikan. Penggunaan anggaran yang tak maksimal seperti inilah yang ingin dihindari agar ke depannya anggaran dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih tepat sasaran.

    Pengetatan anggaran semacam ini pada kenyataannya tidak serta merta mengurangi anggaran yang pada hakikatnya ditujukan bagi kelompok masyarakat miskin. Untuk tahun 2018, Kementerian Sosial yang mengemban tugas perlindungan dan jaminan sosial masyarakat miskin justru mengalami peningkatan anggaran yang semula Rp 17,32 triliun menjadi Rp 34 triliun.

    Pada tahun 2019 mendatang, salah satu program unggulan Kemensos—Program Keluarga Harapan (PKH)—anggarannya akan ditingkatkan dua kali lipat menjadi 31 triliun yang sebelumnya hanya 17 triliun. Hal ini karena PKH dinilai berhasil menekan angka kemiskinan di Indonesia.

    Sementara dalam bidang pendidikan, peningkatan jumlah anggaran secara langsung berdampak pada peningkatan anggaran pendidikan yang telah disepakati sebesar 20% dari belanja negara. Anggaran pendidikan meningkat dari Rp 444,1 triliun menjadi Rp 487,9 triliun. Anggaran ini meliputi pemberian beasiswa melalui Program Indonesia Pintar, beasiswa bidik misi dan LPDP yang tentu saja akan berdampak pada peningkatan SDM di Indonesia.

    Terakhir pembangunan infrastruktur yang bisa kita lihat bersama secara konsisten digalakkan oleh pemerintah diharapkan akan dinikmati manfaatnya dalam jangka waktu dekat. Negara yang berkembang perekonomiannya tentu harus didukung oleh infrastruktur yang memadai. Hal ini akan mempercepat mobilitas masyarakat serta menunjang aktivitas ekonomi di dalam negeri.

    Secara makro, pertumbuhan ekonomi diiringi perkembangan infrastruktur akan memikat hati pelaku ekonomi baik dalam negeri maupun luar negeri untuk berinvestasi. Harapannya jumlah lapangan pekerjaan terus meningkat diikuti oleh penurunan tingkat pengangguran.

    Tentu saja ini semua tidak akan tercapai tanpa dukungan kuat masyarakat terhadap pemerintah. Barangkali doktrin mencintai tanah air yang pernah disampaikan oleh mantan Presiden Amerika Serikat John F Kennedy patut menjadi renungan, “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu!”

*Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia



   

Mendesak Wacana Kesejahteraan Sosial Capres-Cawapres


Oleh : Junius Fernando S Saragih*

Tahapan pemilu serentak dengan pemilihan presiden sedang berlangsung. Rakyat akan kembali memberikan suaranya untuk menentukan calon presiden yang paling layak memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Kendati capres dan cawapres belum  ditetapkan oleh KPU, namun nuansa mempromosikan bakal calon presiden dan wakil presiden masing-masing kubu sudah sangat kentara.

Menarik untuk dicermati bahwa calon presiden yang diusung dua kubu koalisi partai politik masih sama saja dengan calon presiden pada pilpres lima tahun lalu. Semoga saja wacana yang akan diangkat lebih mutakhir dibanding wacana-wacana terdahulu.

Bila pada pilpres sebelumnya, kedua kandidat menawarkan visi-misi yang imaginatif mengingat sama-sama belum pernah menjabat sebagai presiden atau wakil presiden, di pilpres kali ini paling tidak harus mencuat program yang lebih nyata baik dari petahana maupun penantangnya.

Petahana perlu mematangkan program-program yang ditawarkan agar rakyat yakin bahwa menyerahkan masa lima tahun kepemimpinan kepadanya bukanlah merupakan kekeliruan. Sementara penantangnya perlu mengangkat program tandingan yang dianggap lebih efektif menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dirasakan langsung oleh rakyat.

Presiden terpilih periode 2019-2024 nanti akan bertanggung jawab dalam melaksanakan fungsi pentingnya terhadap rakyat baik dalam memberikan pelayanan sosial maupun pengembangan kesejahteraan rakyat. Tentu saja hal ini harus dirancang sedemikian rupa, matang perencanaanya, jelas arahnya dan berkelanjutan.

Ke depan presiden terpilih idealnya tidak lagi berkutat pada permainan angka kemiskinan semata melainkan lebih fokus pada pengentasan kesenjangan ekonomi. Jurang kesenjangan ekonomi yang dimaksud tidak hanya antara si kaya dan si miskin melainkan yang terutama adalah kesenjangan antar kota maupun kabupaten di Indonesia.

Hal ini mungkin dilakukan dengan menghidupkan sentra-sentra ekonomi di kabupaten/kota yang jumlah penduduk produktif nya tinggi agar tidak memilih untuk berurbanisasi. Di sisi lain, yang dilakukan pemerintah selama ini dengan membangun infrastruktur di daerah-daerah adalah upaya investasi jangka panjang dalam mengatasi kesenjangan.

Kesenjangan juga dapat diatasi dengan memotong mata rantai ketertutupan akses pekerjaan khususnya yang difasilitasi oleh negara agar informasinya dibuka seluas-luasnya bagi seluruh warga tanpa terkecuali. Kita tahu bahwa sudah hampir semua seleksi instansi pemerintahan memberlakukan sistem seleksi terbuka. Namun, harus diakui bahwa sistem ini baru terlaksana secara menyeluruh ketika dilakukan secara terpusat. Pemerintahan di masa yang akan datang perlu menyebarluaskan sistem ini sehingga dilakukan semua instansi pemerintahan dari tingkat pusat sampai tingkat daerah.

Dari sisi korporasi, andil pemerintah amat penting dalam merancang tujuan-tujuan alokasi dana corporate social responsibility. Dengan demikian dana CSR akan lebih terarah dan terasa manfaatnya khususnya dalam rangka mengatasi kesenjangan antara si kaya dan si miskin yang barangkali juga dikarenakan masalah sosial pengangguran.

Persoalan lain yang patut diperhatikan oleh presiden terpilih adalah terkait pemenuhan kebutuhan dasar warga negaranya. Karena salah satu indikator kesejahteraan sosial adalah sejauh mana warga negara mampu memenuhi kebutuhan dasar.

Tidak bisa dipungkiri bahwa daya beli masyarakat ikut terpengaruh akibat melemahnya rupiah terhadap nilai dollar AS. Secara tidak langsung, banyak dunia usaha yang mengandalkan impor, menurun penghasilannya, alhasil berujung pada pengurangan tenaga kerja.

Sementara dampaknya yang secara langsung berakibat pada tingginya harga bahan pokok. Sebagaimana kita ketahui tidak sedikit bahan pokok kita berasal dari impor. Situasi seperti ini tentu mempengaruhi kemampuan warga negara dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.

Satu lagi tantangan presiden terpilih yang idealnya sudah mengantongi blue print terkait sistem pengembangan kesejahteraan sosial termutakhir dan berkelanjutan. Seyogyanya, seorang calon presiden mampu merencanakan tahapan-tahapan dalam meningkatkan kesejahteraan warga negaranya.

Mereka diharapkan mampu menentukan arah kebijakan sosial yang  sangat erat kaitannya dengan nasib mayoritas warga negara. Mayoritas warga negara ini adalah penentu siapa yang akan menjadi presiden terpilih.

Terakhir, hemat penulis kemampuan calon presiden dalam menawarkan solusi di tengah persoalan ekonomi dunia adalah tantangan paling nyata yang harus dijawab dalam perhelatan pilpres saat ini. Alangkah memalukan bila kampanye capres dan cawapres masih penuh dengan isu SARA dan HOAX. Kini saatnya menawarkan program dengan inovasi terbaru maupun program tandingan yang menggugah rasa kepercayaan rakyat untuk menyerahkan hak suaranya.

*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana

Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia

PEMBUKAAN ASIAN GAMES : JOKO WIDODO ADALAH JUARANYA


motor jokowi

Sebagai sebuah ajang bergengsi adalah wajar pembukaan Asian Games dirancang sedemikian rupa agar menarik bagi berjuta pasang mata sekaligus menggunakan cara pemasaran yang paling efektif untuk mengguncang dunia internasional. Hemat penulis apa yang dilakukan Jokowi telah berhasil menarik perhatian dan menjadikan Asian games bahan perbincangan baik di media sosial maupun di dunia nyata.

Dalam dunia bisnis, kita mengenal istilah word of mouth atau dalam bahasa jawa disebut gethok tular untuk menggambarkan promosi suatu produk atau jasa yang dilakukan dengan penyampaian pesan dari satu individu ke individu lainnya secara sambung menyambung sehingga dibicarakan oleh banyak orang.

Sekarang ini orang-orang membicarakan aksi Presiden Joko Widodo mengendarai moge saat pembukaan Asian Games 2018 karena dinilai diluar dugaan dan mengejutkan. Netijen menganggap ini sebagai suatu pertunjukan yang keren dan memukau. Tidak berlebihan bila penulis menyebut pertunjukan ini sebagai sebuah keberhasilan seorang Presiden dalam mempromosikan Asian Games.

Kendati ada anggapan bahwa Presiden Joko Widodo sedang memanfaatkan Asian Games untuk menarik simpati kaum milenial berkaitan dengan ajang pemilihan Presiden tahun 2019. Pandangan ini sah-sah saja mengingat ajang Asian Games bertepatan dengan berjalannya tahapan Pilpres yang baru saja melewati masa pendaftaran dan pemeriksaan kesehatan. Namun kebenaran sebuah pendapat tentu harus diklarifikasi secara langsung kepada orang yang bersangkutan. Hanya Joko Widodo dan Tuhanlah yang tahu apa dibalik aksi kerennya itu.

Dari sini kita bisa melihat kecerdasan seorang Presiden membranding dirinya sebagai tokoh yang mengikuti zaman. Beliau mengerti caranya menarik perhatian entah itu untuk sekedar mempromosikan Asian Games atau sekaligus mencuri panggung dalam perhelatan pilpres yang sedang ramai diperbincangkan. Kali ini harus diakui bahwa Joko Widodo adalah juaranya. (jfs)

Pilkada 2018 dan Gagasan Kesejahteraan


politics-2361943_1920

Oleh : Junius Fernando S Saragih

Kontestasi politik daerah akan segera diselenggarakan pada tahun 2018 mendatang. Terdapat 17 provinsi termasuk Sumatera Utara dan 154 kabupaten serta kota yang akan meyelenggarakannya. Waktu yang tidak lama lagi ini seharusnya sudah cukup menggerakkan naluri para bakal calon kepala daerah untuk menawarkan visi misi. Semakin sering masyarakat mendengarkan gagasan-gagasan pembangunan dan penyejahteraan masyarakat dari masing-masing kandidat maka semakin mudah pula dalam menentukan pilihan.

Pada kenyataannya strategi menawarkan gagasan dan program masih belum membudaya di daerah-daerah. Padahal ada banyak media yang dapat dimanfaatkan untuk memviralkan gagasan. Para kandidat dapat memanfaatkan media sosial seperti facebook, instagram dan youtube serta beragam media massa yang sangat dekat dengan masyarakat.

Di sumatera utara sendiri, masih sangat jarang kita temukan kepala daerah yang berani menuliskan atau mewacanakan gagasannya secara komprehensif terkait apa yang akan mereka lakukan ketika mereka terpilih nanti. Hampir semua di ataran mereka menawarkan perubahan, penyejahteraan masyarakat, peningkatan pelayanan dan pembangunan. Namun kita tidak pernah tahu apa yang membedakan masing-masing bakal calon tersebut. Seolah-olah mensejahterakan masyarakat semudah menuliskannya di baliho-baliho yang kerap kita lihat di jalanan.

Zaman sudah berubah. Masyarakat pun sudah semakin cerdas. Saat ini kita membutuhkan tawaran yang lebih nyata bukan sekedar lips service dan janji-janji manis. Bila ingin merubah perlu dijelaskan apa saja ingin dirubah. Bila ingin membangun perlu digambarkan apa saja yang akan dbangun, Bila ingin menciptakan kesejahteraan perlu diterangkan bagaimana caranya.

Bila hal ini dilakukan, masyarakat akan lebih mudah menentukan pilihannya dengan cerdas tidak lagi membeli kucing di dalam karung. Kini saatnya masyarakat daerah memilih dengan mempertimbangkan hal-hal yang melampaui kemasan. Kita perlu mengkuliti setiap kandidat supaya jangan sampai yang terpilih adalah orang-orang yang bernafsu tinggi namun bertenaga kurang. Jangan gadaikan nasib daerah selama lima tahun di tangan orang-orang yang tidak memiliki gagasan sama sekali.

Pada masa kampanyepun, sesi diskusi dengan para kandidat seyogyanya diperbanyak dan mengikis gaya kampanye yang sifatnya entertain. Kampanye bukan ajang main-main sehingga harus memberikan ruang lebih banyak untuk mengetahui kualitas masing-masing kandidat sejauh mana mereka mengenal daerah yang akan mereka pimpin. Apakah setiap kandidat sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk memimpin daerah ini agar semakin maju.

Harus disadari, dalam sistem demokrasi, kepala daerah yang terpilih adalah cermin masyarakat itu sendiri. Bila masyarakat masih permisif terhadap money politic dan tidak peduli visi misi maka sama saja dengan membuka pintu masuk bagi kepala daerah yang korup dan tidak kapabel. Namun bila masyarakat memilih dengan cerdas maka kita optimis kepala daerah yang terpilih pun adalah kepala daerah yang bersih dan kapabel.

Masyarakat sudah cerdas

Menurut data yang dilansir BPS, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia mengalami peningkatan dari 69,55 pada tahun 2015 menjadi 70,18 pada tahun 2016. Hal ini terjadi tidak lepas dari peningkatan komponen pembentuk IPM itu sendiri. Misalnya saja kita lihat dari pendidikan masyarakatnya di mana penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 7,95 tahun, meningkat 0,11 tahun dibanding tahun sebelumnya.

Sementara di Sumatera Utara, bila kita merujuk pada data BPS 2013 silam, rata-rata lama sekolah (RLS) dan angka melek huruf (AMH) lebih tinggi dibandingkan nasional. RLS di Provinsi Sumatera Utara adalah 8,45 tahun sementara nasional masih 8 tahun. AMH nya pun berada pada kisaran angka 97,38 persen lebih tinggi dari nasional yang hanya 91 persen.

Selain itu bila ditinjau dari lama praktek demokrasi di Indonesia, pilkada langsung paling tidak telah diselenggarakan dua kali sejak diberlakukannya pada tahun 2005. Pengalaman ini sudah cukup memberikan masyarakat pelajaran agar tidak salah memilih lagi pada pilkada selanjutnya. Masyarakat sudah bisa membandingkan kinerja kepala daerah di masa lalu apakah sudah sesuai dengan harapan atau belum. Lantas, kepala daerah yang seperti apa yang seharusnya dipilih agar bisa memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat.

Setidaknya ada tiga indikator yang perlu diperhatikan masyarakat terkait dengan keberhasilan kepala daerah maupun visi misi calon kepala daerah. Pertama, sejauh mana kepala daerah tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di daerah. Hal ini bahkan bisa dirasakan secara langsung dan alangkah lebih baik bila merujuk pada data-data yang akurat. Kedua, apakah pelayanan kesehatan mudah diakses. Serta ketiga, upaya apa yang sudah atau akan dilakukan kepala daerah untuk mendorong peningkatan angka partisipasi sekolah di daerah. Kemudian, masyarakat juga bisa melihat bagaimana kondisi infrastruktur pendidikan, kesehatan dan perekonomian di daerah apakah mengalami perbaikan atau tidak. Dengan cara seperti ini maka kepala daerah yang akan terpilih nanti adalah kepala daerah yang bisa membawa daerahnya menjadi lebih sejahtera.

Urbanisasi dan Lambatnya Perekonomian di Pedesaan


man-489744_1920

Oleh : Junius Fernando S Saragih

Eksodus besar-besaran penduduk desa ke kota sudah saatnya kita pandang dengan kaca mata yang lebih bijak dan komprehensif. Urbanisasi seolah melukiskan semangat kemajuan serta berusaha meningkatkan taraf hidup menjadi jauh lebih baik. Banyak penduduk desa yang menggantungkan harapannya pada peluang-peluang yang memusat di perkotaan.

Seharusnya hal ini mendapat apresiasi karena telah menggambarkan bangsa yang berpengharapan kuat yang tidak mau diam dalam keterpurukannya. Bila ternyata di kemudian hari muncul permasalahan baru di perkotaan dengan lahirnya kaum miskin kota, gelandangan dan pengemis serta pekampungan kumuh, maka ekses ini yang perlu kita kaji lebih dalam kira-kira apa yang salah di balik semua ini. Dengan kata lain, ekses seperti ini seharusnya tidak dijawab semudah menyalahkan penduduk desa yang melakukan urbanisasi.

Menurut data yang dikeluarkan BPS pada September 2016, sebanyak 62 persen penduduk miskin Indonesia berada di pedesaan. Hal ini mengindikasikan bahwa pergerakan ekonomi di pedesaan cenderung berjalan lambat. Kondisi ini menjadi alasan yang rasional untuk mencari peluang baru di perkotaan.

Ada beberapa alasan mengapa perekonomian di pedesaan bergerak lambat. Pertama, pedesaan yang bercorak agraris kini mengalami penurunan dari segi produktivitas hasil panen. Penurunan ini tidak lepas dari menurunnya minat masyarakat pedesaan untuk tetap mempertahankan profesi sebagai petani. Sangat jarang keluarga petani yang menganjurkan keturunannya untuk tetap bertani. Alasannya sederhana karena kini sektor pertanian semakin tidak menggiurkan dan kalah pamor dengan sektor ekonomi lain.

Kenyataan ini dapat dilihat dalam gambaran data yang dilansir oleh BPS bahwa jumlah penduduk yang berprofesi sebagai petani terus menurun dari 39,22 juta pada 2013 menjadi 38,97 juta pada 2014. Pada tahun 2015 juga mengalami penurunan menjadi 37,75 juta (CNNIndonesia.com, 9/2/16).

Bernada serupa, dalam sebuah wawancara, asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengatakan serapan tenaga kerja di sektor pertanian menurun dari tahun 1990 sebanyak 55,1% menjadi 31,9% berdasarkan struktur tenaga kerja sektoral (Okezone.com, 30/3/17).

Sementara itu, perkembangan sistem pertanian kita juga cenderung berjalan lambat. Pertanian yang berbasis teknologi dan diusahakan dalam skala besar masih jarang kita temui di pedesaan. Dalam hal ini Indonesia tergolong lalai dalam mempertahankan corak agraris yang ia miliki.

Padahal negara maju seperti Amerika Serikat saja tidak meninggalkan sektor pertaniannya di kala ekonomi manufakturnya mengalami kemajuan pesat. Kita juga perlu melirik negara seperti Selandia Baru yang perekonomiannya maju dan berkembang berkat mengandalkan sektor pertanian dan peternakan.

Belum lama ini, negara berekonomi maju seperti China juga mulai berinvestasi ke negara-negara berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Selatan dalam sektor pertanian. Mereka menyewa dan membeli lahan di sejumlah negara dan mengembangkan pertanian berbasis teknologi. Ini mengindikasikan bahwa sektor pertanian masih sangat penting di mata dunia.

Bila benar demikian, mengapa di Indonesia, minat untuk bertani terus mengalami penurunan? Mengapa petani kita masih belum mengalami kesejahteraan di saat sektor pertanian mulai kembali diperhatikan bahkan dalam kancah internasional?

Mari kita uraikan satu per satu sengkarut permasalahan dalam sektor pertanian di Indonesia. Pertama, harus diakui bahwa kebanyakan petani di Indonesia bukanlah pemilik lahan sehingga tingkat kesejahteraannya tergantung pada upah buruh tani yang berlaku di suatu daerah.

Upah nominal buruh tani di Indonesia menurut laporan BPS pada Juni 2017 adalah 49.912 rupiah per harinya. Upah ini hanya meningkat sebesar 12.607 rupiah dibandingkan bulan Desember 2009. Itu artinya dalam kurun waktu 8 tahun tidak ada peningkatan yang signifikan terhadap upah buruh tani. Lantas, bagaimana mungkin kita masih berharap pada perbaikan perekonomian di pedesaan yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani?

Kedua, harus diakui bahwa kelompok yang paling diuntungkan dalam usaha pertanian adalah para pengusaha bukan petaninya. Petani belum memiliki posisi tawar yang setara tatkala akan menjual hasil panen. Hal ini dikarenakan masih banyak petani yang pendanaannya bergantung kepada tengkulak yang mengakibatkan mereka tidak bisa menentukan harga sesuai dengan kemauan mereka sendiri.

Bahkan ketika harga pangan di pasar meningkat tidak besar pengaruhnya terhadap peningkatan perolehan untung petani. Ketika harga pangan menurun, petani semakin tercekik karena hasil yang diperolehnya tidak bisa menutupi modal yang telah dikeluarkan. Walhasil yang terjadi adalah ketika pengusaha di perkotaan masih tetap bisa menaikkan margin harga sesuai dengan perhitungan ekonomi yang berimbang, petani di pedesaan hanya bisa gigit jari.

Ketiga, akademisi dalam bidang pertanian masih enggan turun ke desa untuk memberikan angin segar bagi pengembangan sektor pertanian di pedesaan. Kebanyakan lulusan pendidikan pertanian justru memilih bekerja di sektor nonpertanian. Barangkali sulit menyalahkan lulusan pertanian kita karena skema untuk penempatan pada sektor pertanian belum dirancang secara sistematis oleh pemerintah. Di sisi lain, mereka juga butuh pekerjaan yang dapat dengan segera membantunya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dari ketiga alasan ini dapat kita simpulkan bahwa ada suatu sistem lama yang tak kunjung berubah sejak dulu hingga sekarang yang membuat petani tetap kesulitan untuk berkembang. Hal ini pula yang membuat perekonomian di pedesaan tetap bergerak lambat. Oleh karenanya, masih butuh keseriusan dan political will baik dari pemerintah maupun kelompok akademisi dan pengusaha guna mengatasi satu per satu penyebab kemandekan ekonomi di pedesaan.